Thursday, June 05, 2008

Bicara Tentang Perasaan

Pernah dalam suatu masa yang lama saya mengabaikan perasaan. Saat tujuan hidup rasanya jelas, yaitu prestasi dan target untuk dicapai, hidup terasa lebih mudah. Saya tidak pernah dan tidak merasa perlu untuk berpikir tentang apa yang saya rasakan (dan apa yang orang lain rasakan) karena lebih mudah untuk fokus dan berorientasi pada tujuan. Apalagi jika tujuannya juga tidak berhubungan dengan orang lain.

Pernah dengar tentang locus of control atau LOC? Locus of control adalah sikap seseorang dalam mengartikan sebab dari suatu peristiwa. Seseorang dengan Internal LoC adalah mereka yang merasa bertanggung jawab atas kejadian-kejadian tertentu. Hasil adalah dampak langsung dari tindakannya. Sedangkan, orang dengan External LoC adalah mereka yang sering menyalahkan (atau bersyukur) atas keberuntungan, petaka, nasib, keadaan dirinya, atau kekuatan-kekuatan lain di luar kekuasaannya.

Dulu saya bangga dengan sikap yang sangat internal LoC. Saya percaya bahwa segala penghalang akan dapat teratasi dengan sikap positif, ulet dan tidak mudah putus asa. Saya bahkan penganut impossible is nothing, semua bakal tercapai asal saya berusaha lebih pandai, lebih kuat, dan lebih ‘usaha’. Dan saat itu tampaknya semua tujuan akan tercapai karena diri saya sendiri. Saat itu saya lupa dengan kuasa Allah.. bahwa sesungguhnya Allah yang mengijinkan segala sesuatu yang terjadi. Saya lupa bahwa tujuan saya tercapai sungguh karena kemurahan-Nya. Dan saya lupa untuk berpikir sejenak tentang perasaan saya sendiri, atau apakah tujuan saya adalah tujuan yang benar?

Menjadi ibu dan full time mom merubah banyak hal. Ribuan hal yang tadinya penting untuk saya menjadi kurang penting, bahkan tidak penting. Sementara, hal-hal yang tadinya saya abaikan ternyata bergerak menjadi bagian yang sangat penting.. seperti soal perasaan.

Saya terkaget-kaget, bingung dan gamang. Perasaan adalah sesuatu yang jarang sekali saya pikirkan (dan rasakan). Terbiasa berpikir dengan menggunakan logika, saya tidak ahli menggunakan rasa. Sebagai mahasiswa teknik dan engineer, saya terbiasa berpikir secara sistematis, mencari solusi yang paling efisien, dan fokus pada tujuan. Saya lupa mengasah otak kanan saya.

Pertama kali saya sadar akan tidak pekanya diri adalah saat seorang sahabat menangis di depan saya. Emosi, adalah suatu hal yang saya hindari. Karena saya tidak tahu bagaimana menghadapinya. Selama ini saya nyaman dengan teman-teman yang juga sangat logis, dan tidak ahli menghadapi kompleksnya perasaan. Waktu itu saya merasa ada yang salah dengan tidak ketidaknyamanan saat mencoba berempati, saat rasa canggung mendominasi dan saya tidak tahu apa yang harus lakukan untuk menghibur sahabat yang sedih.

Setelah anak saya makin besar saya makin bingung. Teori-teori telah saya jalankan, banyak buku yang telah saya baca, tapi tetap saya merasa ada yang kurang… menjadi ibu adalah hal yang menakjubkan, karena sungguh banyak muatan emosi yang terlibat.

Ternyata saya memang harus belajar tentang perasaan. Saya belajar, bahwa manusia bukanlah robot yang eksak, yang akan mengeluarkan output tertentu sesuai input yang diberikan, seperti yang saya pelajari tentang rangkaian listrik saat kuliah. Manusia, apalagi anak-anak, manusia kecil yang fitrah, titipan Allah, bukanlah sesuatu yang bisa saya baca dengan tepat. Masalah rumah sehari-hari sering kali tidak memerlukan solusi yang efisien, melainkan kesabaran dan hati seluas samudra. Saya belajar, untuk memahami ketidaksempurnaan, kehebohan rumah dan meledaknya emosi anak-anak sebagai bagian dari dinamika seorang ibu, dan saya harus belajar menerima bahwa saya ibu yang tidak sempurna.

Saya harus belajar dari awal untuk menggunakan perasaan. Bukan hal yang mudah, karena logika seringkali mendominasi pikiran, perbuatan dan perkataan saya. Apakah perasaan saya sudah tumpul? Apakah empati saya sudah sangat berkurang, setelah selama ini tergerus oleh segala tujuan yang sebenarnya kurang penting? Apakah selama ini saya mengabaikan perasaan banyak orang di sekeliling saya? Saya tidak tahu..

Saya ingin belajar, bagaimana cara menajamkan hati, meluaskan kesabaran, memperdalam empati, dan menguatkan diri saya. Saya ingin belajar untuk menyeimbangkan logika dan perasaan, menelusuri relung-relung dalam hati saya dan menemukan binar-binar rasa yang mungkin pernah ada. Saya ingin belajar, membaca dan mempelajari perasaan orang lain, merespon dan bertindak dengan dituntun ilmu yang santun, dan meluaskan frekuensi rasa diri..

Adakah cara mudah untuk mempelajarinya?

4 comments:

Ibuna said...

Rasanya tidak ada, perlu waktu, ilmu dan kelapangan hati sepertinya.

Eh fit, da sigana dikau teh sebaliknya sama sayah. Saya mah nu selalu mengurus perasaan tea hehe. Tapi sekarang sedang belajar juga untuk lebih seimbang. Tah mun kita menyatu jadina sempurna geura heuheu gaya :).

Btw, kami baru sampai ke Bandung paling tidak 26 Juni, da sampe jakarta baru 22 Juni terus mau ke rumah kakak dulu di Serang.

Kamana di Bandungna? sampai kapan?

Ieu atuh imelna nya urang ngobro, sugan we aya rijkina tepang

liabarra@yahoo.com

ary said...

Emang gak gampang yah Fit. Tapi gak nyerah tuk nyoba meningkatkan kualitas kita sebagai wanita, ibu n istri tuk aku udah bagus.

Tulisanmu ini bikin aku lebih semangat lagi tuk aku belajar jadi istri yang baek, ibu yang baek, n temen yang baek

abiAzka said...

Cukup menyentuh dinding hati dan membangkitkan naluri positifku untuk menyayangi seorang istri.
Salam kenal!aku dwi
Satu hal yang harus kita ikutsertakan didunia ini dalam melangkah, berbuat ataupun tidur sekalipun!apakah itu! Dia yang selalu bersama kita Sang Khalik yang Maha sempurna.

Bundanya Tiara said...

insya allah, piso juga kalo diasah bakal jadi tajem...:-).