Written on Friday, October 16, 2009 by fitri
Salah satu hal unik di kompleks tempat tinggal saya adalah batas kecepatan maksimal untuk kendaraan bermotor. Di jalan-jalan utama kompleks kecepatan maksimalnya adalah 40 km/jam, sementara di kawasan perumahan adalah 30 km/jam. Peraturan ini ditegakkan dengan ketat, bahkan secara rutin ada razia yang dilakukan Security kompleks ini, untuk memastikan batas kecepatan dan berbagai aturan berkendaraan seperti penggunaan helm untuk sepeda motor, adanya SIM dll.
Awalnya, tidak mudah bagi saya untuk mengikuti aturan kecepatan tersebut. Apalagi saat saya harus menyetir 30 km sekali jalan dari kantor ke rumah dan sebaliknya. Berkendara di jalan yang sepi dan beraspal mulus, rasanya suliiit sekali untuk mematuhi batas kecepatan. Keinginan untuk cepat sampai di rumah biasanya membuat saya tergoda untuk menginjak gas dalam-dalam :p.
Setelah 5 tahun tinggal di Duri, saya makin terbiasa mengikuti aturan berlalu-lintas. Apalagi setelah sempat terkena razia satpam :p. Walaupun begitu, saya mengikuti aturan bukan karena takut terkena razia lo:p. Buat saya, aturan kecepatan sebenernya adalah kesempatan untuk belajar menahan diri. Belajar untuk hidup lebih tenang dan tidak terburu-buru. Kadang-kadang saya lupa, bahwa makin dalam gas saya injak sesungguhnya hanya memberi 5 menit tambahan.
Saya jadi terbiasa untuk selalu mengecek spedometer setiap kali menyetir. Rasanya sudah satu paket, tiap beberapa detik saya selalu menengok spedometer dan tiga spion. Aturan yang ketat di kompleks juga membuat saya (lebih) terbiasa untuk mengikuti rambu-rambu lalu lintas *kabarnya jumlah rambu di kompleks rumah saya lebih banyak dari jumlah seluruh rambu di kota kecil ini :p *.
Bukankah itu latihan? Latihan dalam kehidupan setiap hari. Tidakkah dalam hidup kita juga harus senantiasa mengikuti rambu? Rambu agama, etika, adat istiadat, rambu penerimaan oleh orang lain, bahkan rambu yang sangat halus berupa kata hati kita? Hm.. walaupun Indonesia sudah merdeka sejak 1945, walaupun liberte’ sudah diteriakkan sejak Revolusi Prancis ratusan tahun lalu, kebebasan seseorang akan selalu dibatasi oleh aturan dan manusia lainnya.
Saya juga bersyukur karena (hampir) selalu teringat untuk menengok spedometer setiap kali menyetir. Saya berusaha agar angka yang ditunjukkan maksimal satu garis di bawah 40, ada atau tidak ada razia :p. Mudah-mudahan hal itu merupakan latihan untuk belajar menahan diri dan selalu intropeksi. Menahan diri dari berbagai emosi yang kadang meluap, menahan diri untuk tidak selalu mengikuti keinginan, menahan diri untuk menjaga perasaan orang lain, menahan diri untuk tujuan yang lebih besar.
Apakah hati ini bisa menjadi spedometer hidup saya? Andaikan hati adalah spedometer, yang memberi informasi seberapa jauh saya mengikuti aturan-Nya. Mungkin hati harus sangat bersih dan putih, harus sangat ikhlas dan lapang, sehingga dapat selalu menuntun perilaku yang benar. Atau saya yang terlalu sering mengabaikan hati saya saat dia memberi peringatan, seperti saya mengabaikan spedometer saat berkendara di luar kompleks?
Akan jauh lebih sederhana jika aturan dalam hidup hanya sebatas maksimal 40 km/jam dan mengikuti rambu setiap seratus meter. Pada kenyataannya, beberapa jam/menit perhari yang saya habiskan dengan menyetir, baru melatih refleks kaki dan mata saya. Tidak pernah lagi saya menginjak gas dalam-dalam *kecuali saat menyetir di luar kompleks :p*.
Kenyataannya, hidup tidak sesederhana itu. Andaikan emosi dan hawa nafsu adalah pedal gas dalam bentuk cita-cita, ego, harga diri, ambisi dan membuat hidup kita makin berwarna, keseimbangan hidup adalah rem nya. Mungkin benar kata orang,”Jangan injak gas terlalu dalam!”. Safety first :p.
Read More..
Posted in
cerita ibu,
just a thought
|
Written on Friday, August 28, 2009 by fitri
Ini cerita seorang pria untuk cucunya: "Di dalam diriku sering kali terjadi pertarungan dahsyat dua srigala. Srigala pertama sangat buas, penuh amarah, iri, penyesalan, tamak, merasa sengsara, sekaligus merasa sombong. Srigala kedua baik sekali, penuh cinta, bahagia, damai, dan harapan, rela memaafkan diri sendiri dan orang lain".
Pertanyaan cucunya, "Lalu srigala mana yang menang?"
Jawab pria tersebut, "Srigala yang aku beri makan."
Cerita di atas terngiang-ngiang di kepala saya, sejak membacanya sebagai kutipan di Femina edisi Agustus 2009. Rasanya cerita ini menggambarkan dengan tepat apa yang saya rasakan Ramadhan ini.
Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk introspeksi diri. Indahnya berpuasa, saat sepanjang hari kita dipaksa untuk mengenali dan mengendalikan rasa lapar, dahaga dan kantuk. Saat puasa bukan hanya lapar dan dahaga, dapatkah kita mengenali dan mengendalikan srigala buas dalam diri kita?
Kadang-kadang hidup berjalan dalam alur yang membingungkan. Ada kalanya saya merasa gelap dan sempit, dan keresahan berbelit dalam pikiran. Apakah itu berarti pertempuran sedang berlangsung? Srigala mana yang akan menang?
Akankah srigala buas dalam diri kita yang menang? Saat ego membakar amarah, iri membuahkan penyesalan, sombong melahirkan ketamakan, hanya rasa sengsara yang tersisa. Dalam kekhilafan, kebodohan dan ketidak sadaran diri, mungkin sering sekali kita terjebak, memberi makan si srigala buas ini sehingga makin kuat dan makin membutakan diri kita. Naudzubillah.
Rindu diri ini untuk memenangkan srigala yang damai dan penuh cinta, yang ikhlas dan rela memaafkan diri sendiri dan orang lain, hidup dalam bahagia dan harapan. Dapatkah saya memberi makan si srigala baik ini, dengan semua cinta dan emosi positif? Rindu hati ini dalam ketenangan dan kebahagian, saat keikhlasan bersinar menyinari hati.
"Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya." (QS Al Fajr 27-28).
Semoga rahmat Ramadhan menenangkan jiwa dan memuaskan hati.. dan mengalahkan srigala buas dalam diri kita..
Read More..
Posted in
cerita ibu,
just a thought
|
Written on Saturday, March 28, 2009 by fitri
Senin 16 Maret 2009 malam rasanya adalah malam terpanjang dalam hidup saya. Saat itu saya berada di Emergency Room, Medical Duri, memangku Kishan yang dalam keadaan 'fly' dan muntah-muntah. Mukanya pucat, dan terus terbaring dalam tidur yang tidak tenang. Setiap kali bergerak dia menangis dan mengeluh kepalanya sakit. Sedikit guncangan atau perpindahan posisi akan membuatnya muntah. Masker oksigen terpasang di wajahnya...
Anda yang pernah memiliki anak di rumah sakit, pasti tahu perasaan saya saat itu. Sedih, cemas, bingung, agak panik.. itu yang saya rasakan saat menungguinya. Saat itu, seakan semua masalah yang lain tidak penting, hanya ruang emergency itu yang nyata.
Senin jam 2 siang kepala bagian belakangnya terbentur keras saat dia bermain dengan Zaka. Setelah terbentur Kishan sempat menangis sebentar, terus tertidur dan bangun hanya untuk muntah. Sesorean itu dia hanya tidur dan sangat lemas.. hilang semua kelincahannya, kehebohan dan keberisikannya. Responnya juga lambat.. saat ditanya apapun dia hanya memandang dengan nanar dan tidak fokus. Sedikit saja gerakan membuatnya muntah, dan menangis sambil berkata kepalanya sakit.. duh.. :-(.
Saya bawa ke emergency jam 4 sore, alhamdulillah langsung diperiksa dokter dan ditangani dengan baik di sana. Selama 8 jam di ruang emergency, Kishan diobservasi, diberi selang/masker oksigen yang harus saya pegangi terus sedekat mungkin dengan wajahnya (karena dia marah bila selang/masker itu menempel di wajahnya). Selama itu tak lepas zikir saya lafalkan, hati saya kuatkan.. untuk belajar ikhlas dan memohon pertolongan Allah..
Bukankah anak adalah amanah yang sangat indah, dan berat? Di saat seperti itu, saya sadar betapa beruntungnya saya selama ini. Hari-hari yang saya lewati, dengan segala kelincahan dan keberisikan, tawa dan canda, tangis dan teriakan, nyanyian dan obrolan dengan anak-anak adalah nikmat yang sangaaat berharga yang sering tidak saya sadari. Malam itu hati saya berat, menyadari betapa sering saya tidak bersyukur atas kemurahan-Nya.. Betapa saya adalah mahluk sangat lemah, yang tidak dapat berbuat apapun saat sepotong hati saya terbaring di ranjang emergency..
Anak adalah titipan. Apakah selama ini saya menyadarinya? Apakah saya cukup bersyukur, mendapat titipan yang menyenangkan hati, yang mencerahkan dan mewarnai hari-hari.. apakah dada saya akan cukup lapang untuk menyadari bahwa anak-anak bukanlah milik saya? Astagfirullah.
Malam itu sangat spiritual untuk saya. Sebagai seorang ibu saya selalu berusaha melindungi anak-anak saya, menjaga mereka, memastikan mereka mendapat makanan yang sehat, hangat dan nyaman, tidur tepat waktu, melakukan aktifitas yang positif dan berbagai hal yang biasa dilakukan oleh seorang ibu. Semua hal tersebut menjadi rutin, kebiasaan yang saya jalani setiap hari. Saya sering lupa, betapa beruntungnya saya dengan rumah yang berwarna dan ceria oleh tawa dan tangis anak-anak. Saya menyesal, sering khilaf dengan marah dan emosi, saat perilaku anak-anak tidak sesuai dengan yang saya inginkan... saya tersadar, bahwa saya hanyalah ibu, tanpa kemampuan untuk menggenggam hidup anak saya di tangan saya...
Jam 12 malam akhirnya Kishan dipindahkan ke ruang rawat inap. Masih dalam keadaan 'fly' dan lemah, walaupun muntahnya sudah berkurang. Bahkan saat lengannya disuntik untuk diinfus pun dia 'pasrah'.. *ibu kangen jeritanmu saat disuntik, Nak*. Alhamdulillah akhirnya saya pun dapat berbaring sejenak sambil tetap memegangi masker oksigen Kishan. Total jendral malam itu saya hanya tidur 1 jam.
Saat pagi datang, dan waktunya untuk mandi dan sarapan Kishan tetap tidur. Para perawat menganjurkan agar saya tidak membangunkan Kishan. Saya tunggu.. dan tunggu dia bangun sambil menatap wajahnya yang mungil. Duh.. betapa saya mencintainya...
Ketika dokter visit, dia belum juga bangun. Dokter memeriksanya dan berkata bahwa jika Kishan muntah lagi hari ini, kami akan langsung dikirim ke Pekanbaru untuk CT Scan. Pagi ini jadwalnya adalah x-ray.
Jam 8 pagi akhirnya dia membuka matanya. Plong hati saya rasanya saat dia tersenyum dan senyum saya makin lebar saat dia berteriak "lapaaaaar!". Alhamdulillah, kamu sudah kembali, Nak :p. Hari itu rasanya saya ingin selalu tersenyum. Memandang Kishan yang kembali lincah dan jail, walaupun sebelah lengannya terikat pada infus. Matanya masih sembab, dia masih lebih suka berbaring daripada duduk. Tapi responnya sudah sangat membaik, dan tidak lagi mengeluh kepalanya sakit.. alhamdulillah.
Nafsu makannya juga sudah kembali. Kotor seluruh ranjangnya pagi itu, karena dia makan telur rebus sendiri. Terharu saya melihat kemandiriannya mengupas telur, dan saat tangannya menyendok sambil terus berceloteh. Subhanallah.. teringat saya di malam sebelumnya saat responnya mengkhawatirkan. Terima kasih Tuhan..
Di siang hari dia makin bawel. Bahkan dipanggil-panggilnya Dokter karena ingin pulang ke rumah :p. Walaupun kondisinya baik, ternyata dia masih harus dipantau karena masa krisisnya 2 hari.
Hingga hari berikutnya, kondisi Kishan makin baik *a.ka makin heboh*. Dia ribut mencari mainannya dan memesan agar dibawakan lego dari rumah. Selama di rumah sakit juga nafsu makannya cukup baik, dan responnya semakin lama semakin baik. Hasil x-ray nya juga baik. Akhirnya di hari Kamis kami diperbolehkan pulang kembali, dengan setumpuk nasihat agar saya memperhatikan dengan teliti kondisinya hingga 2 minggu ke depan.
Alhamdulillah... saat ini sudah lebih dari 1 minggu, dan Kishan tetap lincah dan berisik. Walaupun saya jadi rada paranoid, dan tidak ingin jauh-jauh darinya lagi. Mudah-mudahan Allah senantiasa melindungimu, Nak..
Read More..
Written on Sunday, January 18, 2009 by fitri

Liburan kali ini, sepanjang jalan di berbagai kota di Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah saya melihat banyak sekali spanduk bergambar foto-foto caleg dari banyak partai. Foto-foto itu terpampang dengan janji-janji tiap kandidat. Berbagai wajah dalam ekspresi cerah dan 'dapat diandalkan', dari artis hingga komedian, dari pejabat tinggi hingga wajah baru yang mendadak jadi familiar mengingatkan akan banyaknya partai dan caleg yang bisa dipilih. Saya jadi merasa seakan disajikan iklan berbagai produk janji dengan kemasan yang berbeda :p.
Banyaknya poster tersebut membuat saya berpikir, bahwa pasti tidak sedikit biaya yang dikeluarkan tiap kandidat caleg untuk membiayai kampanyenya. Untuk brosur dan spanduk saja, misalnya, pasti butuh berjuta-juta rupiah untuk ongkos cetaknya. Belum lagi transport, biaya promosi, honor tim sukses, pulsa hp, biaya melobi dan (pasti) banyak pos lainnya. Mudah-mudahan besarnya biaya yang dikeluarkan itu tidak menjadi 'hutang' yang harus dibayar kandidat (jika) dia terpilih nantinya.
Pemilihan langsung memang membuat para caleg harus memasarkan diri agar dikenal. Sistem suara terbanyak dan sangat kompleksnya masyarakat kita membuat para caleg itu harus mempromosikan diri dengan segala cara, bagaikan produk yang ditawarkan untuk dibeli.
Efektifkan biaya yang dikeluarkan itu? Hem, saya tidak tahu. Yang saya pikirkan malah kualitas janji para caleg tersebut, visi dan misi mereka. Bagaimana mungkin para caleg tersebut mencintai bumi dan mengusung program bernuansa lingkungan, jika dengan semena-mena poster mereka merusak pohon-pohon dan trotoar. Bagaimana saya percaya bahwa mereka akan taat dan menepati janji saat kampanye, jika poster-poster tersebut ditempel secara asal di sembarang tempat, dari tiang listrik hingga baliho raksasa, saling bertumpuk tanpa mempedulikan estetika. Bagaimana saya percaya bahwa slogan-slogan manis seperti 'peduli terhadap rakyat', 'pendidikan murah', 'perubahan' dan lain-lain akan terwujud jika slogan hanya sekedar slogan, tanpa program yang jelas dan terencana.
Pemilihan langsung dengan sistem suara terbanyak memang lebih baik dari, katakanlah, jaman orde baru dulu. Paling tidak sekarang kita tahu siapa yang kita pilih. Paling tidak kita 'kenal' dengan wajah anggota legistatif kita. Di masa lalu, rakyat hanyalah penonton buta yang tidak tau siapa yang duduk di dewan. Rakyat hanyalah sekumpulan suara yang menempatkan istri, anak, dan banyak kerabat pejabat menjadi anggota dewan yang terhormat, tanpa seleksi memadai atas kemampuannya.
Saya pribadi ingin suara saya diwakili oleh calon yang cerdas dan berwawasan luas, yang bisa memberikan solusi atas berbagai masalah rakyat. Bukan hanya masalah klise, ekonomi dan lapangan kerja, tapi juga masalah yang sangat mendasar: pangan, air dan energi. Bumi kita sudah sangat lelah memenuhi kebutuhan kita. Kerusakan lingkungan sudah sangat parah, krisis air, pangan dan energi terjadi di berbagai tempat di negara kita. Sudah saatnya kita punya pemimpin yang peduli, dan mencintai lingkungan.
Saya mendambakan pemimpin yang memegang kuat prinsip yang benar. Saat semua hal berbaur menjadi abu-abu, saya ingin suara saya menguatkan pemimpin yang bisa memilih untuk membiasakan berbuat BENAR, dan bukan membenarkan yang BIASA.
Saya merindukan pemimpin yang mencintai rakyatnya, yang meletakkan kepentingan pribadi dan partai di bawah kepentingan rakyat yang lebih luas. Yang tidak silau oleh megahnya apartment, mengkilapnya mobil mewah dan banyaknya angka nol di rekening. Adakah caleg yang tidak tergiur oleh jalan-jalan ke eropa, oleh baju, tas dan sepatu bermerk terkenal berharga jutaan, oleh kekuasaan dan status 'wakil rakyat' nya?
Saya hanya bisa berharap, agar wajah-wajah yang terpampang itu menyadari, betapa beratnya menyandang amanah ratusan ribu hingga jutaan pemilih. Dan bahwa amanah tersebut merupakan bebannya di hari keadilan nanti.
Semoga caleg yang terpilih benar-benar manusia yang berkualitas tinggi yang mempu mengemban amanah yang berat ini. Kami butuh bukti, bukan sekedar janji..
*picture from metrotvnews.com*
Read More..
Written on Saturday, January 17, 2009 by fitri
12 Januari 2009
Tujuh taun yang lalu saya dan suami mengucapkan ijab kabul di depan penghulu. Waktu itu semua orang bilang bahwa pengantennya tersenyum terus. Bener juga sih, senyum itu untuk menyembunyikan maluuu.. huahahaa... Asli, saya mah malu jadi 'pusat perhatian' seharian.. Rasanya apapun yang saya lakukan selalu dapat komentar orang, walaupun biasanya orang bilang, "Cantik... " hua haa.. geer pisan.
Tiga hari setelah menikah, kami langsung melakukan perjalanan darat lintas sumatra ke Pekanbaru. Ya, saya langsung diboyong suami. Inget banget, waktu itu dana kita pas-pasan karena tabungan habis untuk persiapan merit.. kartu kredit pun udah sampe limit. Alhamdulillah kita sampai di Rumbai dengan selamat, dengan sisa 200 ribu rupiah di dompet, dan gajian masih dua minggu lagi! Untung tinggal di camp, makan transport dan cuci gratis.. bahkan 200 ribu itu bertahan sampai hari gajian!
Sepuluh bulan kita habiskan di kamar kecil di Rumbai. Masa-masa yang santai.. bener-bener pacaran kayaknya, setelah dua taun lebih pacaran jarak jauh heheh. Setiap pagi sarapan di messhall bareng temen-temen, lalu saya ngantor jalan kaki. Baru ketemu suami di sore hari dan makan malem bareng. Waktu itu saya baru tau bahwa suami saya sporthacolic dan tv-holic! Kita habiskan waktu juga untuk baca novel ya Say. Ingat seri Naga Sastro Sabuk Inten dan Mahesa Jenar :p?
Menjelang kelahiran Zaka kami pindah ke Minas.. ke rumah kecil dengan hutan di halaman belakang. Awalnya kaget dengan monyet-monyet dan biawak yang sering bertandang, juga rombongan babi yang sering mampir.. lama-lama jadi temenan deh :p. Zaka yang bersemangat lahir di Rumbai, tangisnya 'mengguncang dunia' :p. Setelah anak pertama lahir saya baru tau bahwa si ayah ternyata sangat 'ahli' dan pede menangani bayi baru (dan ibunya). Bahkan dia yang memandikan Zaka sampai 40 hari pertama, sebelum saya pede melakukannya.
1,5 tahun berikutnya kami pindah lagi ke rumah kontrakan di Rumbai. Rumah kecil segede upil, fasilitas dari kantor saya dulu. Alhamdulilah, akhirnya saya ga perlu menyetir 30 km sekali jalan dari rumah ke kantor dan sebaliknya. Zaka tumbuh gendut dan lucu, membanggakan ortunya. Doyan makan dan minum susu, doyan ngobrol dan suka becanda.. Saya jadi tau bahwa si ayah yang jadi full senyum kalo ama anak adalah teman main favorit Zaka.
Beberapa bulan kemudian pindah lagi, ke rumah beneran, hasil desain kita berdua. Walaupun ketemu ayah hanya saat weekend, karena Ayah mandah di Duri, sangat menyenangkan tinggal di rumah sendiri.
Akhirnya kami pindah ke Duri sampai sekarang. Kishan yang lincah dan humoris lahir dan menjadi kesayangan kita semua. Ayah kini teman favorit anak-anak memiliki 3 fans setia :p. Duri yang sepi ternyata menyenangkan untuk dijelajahi bersama anak-anak..
Tahun demi tahun berlalu, hingga tujuh tahun sekarang, semakin menyakinkan saya. How lucky I am to have such a lovely husband. How lucky the kids to have a great father.
Untuk ayah tersayang,
Terima kasih untuk selalu berada di sini. Terima kasih untuk kesabaran seluas samudra, pengertian yang tak pernah habis, dan cinta yang tidak menuntut. We love you much!
Read More..
Posted in
cerita ayah,
cerita ibu,
hari penting
|
Written on Saturday, January 17, 2009 by fitri
10 Januari 2009. Zakaa Aidan Ahmad 6 tahun.
Met ultah ya cowok gantengku. Semoga Allah senantiasa melindungimu, menghangatkan dan melembutkan hatimu, membangkitkan semangatmu, menajamkan akal pikiranmu, menguatkan keyakinan dan inderamu, membimbing jalanmu dan menempatkanmu dalam kebaikan dan kebenaran-Nya, selalu senantiasa..
Love
ibu, ayah, kishan
Read More..
Posted in
cerita ibu,
cerita zaka,
hari penting
|
Written on Saturday, January 17, 2009 by fitri

Di Garut yang dingin, saya menemukan sebuah penginapan unik bernama
Mulih Ka Desa.. Ketemunya juga ga sengaja. Awalnya berdasarkan rekomendasi teman dari Garut, penginapan yang asyik itu di Cipanas. Eh, ternyata semua kamar penuh! Heuheu.. belum rezeki. Dapat hotel yang lain, ternyata mati lampu. Karena sudah jam 8 malam, dan anak-anak sudah kecapekan, akhirnya saya ingat pernah membaca tentang Mulih Ka Desa. Thanks ya
Tante Rosi, udah repot-repot nyariin no telp nya malem-malem :p.
Tempat ini benar-benar bernuansa pedesaan Sunda jaman dulu *paling enggak waktu saya kecil dulu*, dengan sawah dan balong berisi ikan, gubuk-gubuk beratap rumbia, suara kodok dan udara yang dingin menggigit di waktu malam.. brrrr.
Welcome drink nya berupa bajigur dan bandrek hangat ditemani pisang dan ubi rebus. Nyammm... disajikan dengan unik di gelas dan mangkok kaleng jaman jadul. Uh, jadi inget jaman duluu..
Anak-anak suka sekali 'berpetualang' di jalan sempit di antara sawah dan balong. Ada berbagai permainan juga seperti perosotan, jungkat-jungkit, sendal 'raksasa', egrang, sampai menyebrangi jembatan bambu dengan berpegangan pada tali. Oya, Zaka sempat kejebur di sini ha haa.. Pas kejadian mah dia MARAH BESAR, mungkin malu karena banyak orang di situ. Tapi sekarang kalau inget-inget itu dia pasti ketawa sendiri :p.
Kamarnya berupa pondok di atas balong atau sawah. Interiornya sih modern minimalis yang nyaman, dengan lantai dan dinding kayu dan kamar mandi yang unik karena berdinding semen dan letaknya di bawah kamar tidur. Rasanya tempat ini cocok juga untuk yang ingin berbulan madu :p.
Makanannya juga lezaaat.. cocok untuk lidah sunda saya :p. Disajikan unik di piring kaleng juga. Oya, di sini masakannya dimasak di atas tungku kayu bakar dan menggunakan panci-panci logam jadul..
Penginapan yang sekaligus restoran ini juga lumayan banyak pengunjungnya. Pengunjung restoran bisa bersantap di saung-saung bambu di atas kolam, diiringi suara kecapi dan suling.. sunda pisan :p.
Untuk yang ingin mencoba, lokasi Mulih Ka Desa ada di daerah Samarang, ke arah Kamojang, Garut dan ga jauh (sebelum) dari Kampung Sampireun. Mangga....
Read More..
Posted in
cerita ibu,
liburan
|
Written on Saturday, January 17, 2009 by fitri
Akhirnya kami berlibur...! Hurray :p. Setelah ditunda beberapa kali, bahkan ga mudik waktu lebaran akhirnya kami liburan juga.. Ga jauh-jauh sih, cuman nengok para ortu di Cirebon dan Brebes, jalan ke Pekalongan, berkunjung ke kampungnya si teteh di Garut.. dan akhirnya ngabisin liburan di Bandung sambil nemenin ayah nyelesein tesisnya..
Cerita liburannya menyusul yah :p. Saya mau cerita tentang hebohnya 4 minggu tanpa assisten! Sewaktu masih di Duri (teteh mudik duluan) mah ga gitu terasa hebohnya.. maklum energi masih full hihi. Biar rada heboh setiap pagi, dan tiap hari kudu masak (walaupun si teteh nu bageur udah nyetokin berbagai menu siap goreng.. thanks ya Teh) dan beberes, masih enjoy karena sambil ngebayangin liburan di depan mata.
Waktu cuti juga masih terasa asik. Lha wong si ayah siap sedia setiap saat :p. Paling acara nyuapin anak-anak yang rada lama... Di awal liburan mah mereka gampang sekali makan, masih excited soalnya. Tapi makin lama... makin susaaaaah... di minggu terakhir liburan saya sudah sangat bersyukur kalo dalam 2 jam mereka makan setengah dari porsi biasanya. Si sulung yang ganteng masih lumayan, walaupun ogah makan nasi sendiri, tapi dengan sedikit bujukan masih bisa disuapin. Tapi Kishan.. huuh.. setiap kali nyuapin bener-bener perjuangan.. hiks.
Selama liburan, selain urusan makan yang heboh adalah urusan baju dan beberes koper. Anak-anak meni pada 'stylish' selama liburan.. setiap abis mandi pasti pada sibuk ngoprek koper cari baju yang paling... bukan, bukan paling keren.. tapi paling nyaman! Alhasil saya sampai beli 3 piama baru untuk mereka! Halah, ibunya mah pengen anak teh keren pas liburan, eh anak-anak malah hobi banget berpiama.. makin belel makin suka..
Untung banget ada laundry kiloan di bandung.. duh, ga kebayang kalo kudu nyuci sendiri, setumpuk baju kotor yang tiap hari makin banyaaaak...
Sepulang liburan, dengan energi habis.. yang paling saya inginkan adalah leyeh-leyeh baca majalah sambil nonton tv. Sayang, si teteh belum pulang mudik. Bibi yang biasa bantu nyetrika juga ga datang. Jadilah, sampai 4 hari setelah cuti saya jadi upik abu..
Beneran deh, asli, kerasa banget capeknya ngurus rumah dan 2 anak super aktif! Rumah dekiiiill kelamaan ditinggal.. baju-baju kotor numpuk di koper.. dan nafsu makan dan nafsu ngeberantakin anak-anak makin menggila begitu sampai di rumahnya sendiri *halah, hiperbolis amat ya*.
Beneran lo, anak-anak yang makannya susah minta ampun di hari-hari terakhir liburan, berubah menjadi pemakan segala di rumah! Saya sampai terharu saat Zaka menemukan donat yang umurnya sudah (hampir) 3 hari.. dan langsung habis! Huaaa.. kelaparan sekali kamu ya Nak. Padahal mereka makan nasi 4x sehari lo, walaupun dengan lauk pas-pasan karena ibu ga sepinter si teteh masaknya he he. Senengnyaa, alhamdulillah.. semoga berlanjut terus ya Nak.. ibu seneng banget liat anak-anak yang doyan makan :p.
Urusan beberes juga ga ada berentinya. Walaupun Zaka (dibantu Kishan) udah bisa disuruh 'bertanggung-jawab' kalo melakukan kesalahan. Tapi biasanya buntutnya jadi panjang. Misalnya dia bikin heboh di kamar mandi, sampai air banjir ke gang. Walaupun dengan senang hati mengepel hasil banjirnya, dan mengeringkan gang.. tau-tau banjir pindah ke ruang tengah karena dia bikin 'hujan busa' dengan ember pelnya. Atau, saat menaruh piringnya ke tempat cuci piring, 10 menit kemudian saya menemukan dia sedang 'mencuci' satu piring dan setengah dapur dengan sabun berbusa! Atau saat membereskan lego nya yang berantakan, tau-tau karpet jadi tergulung, kursi-meja bergeser, dan interior ruang tengah jadi berubah! Huahaaa.. mo marah.. tapi lucuuu.. :p.
Alhamdulillah kemaren teteh pulang. Duh, indah rasanya, bisa leyeh-leyeh sambil baca novel, dan duduk berlama-lama di depan komputer lagih :p. Walaupun resolusi 2009 di antaranya adalah (kudu, harus, mesti) bisa masak, tapi minggu ini saya mo 'cuti' dulu...
Oya, Met Taun Baru ya Semuanyaa.. semoga kedamaian di Palestina tercapai, krisis moneter cepat berlalu, dan semoga taun ini lebih baik dari taun-taun sebelumnya..
Read More..
Posted in
cerita ibu,
cerita kishan,
cerita zaka,
liburan
|
Written on Friday, December 05, 2008 by fitri

Singapura sangat meriah di bulan Desember. Dengan lampu-lampu kristal bergantungan di pohon-pohon sepanjang trotoar lebar di Orchard road, musik di mana-mana sungguh menyenangkan. It's so great to spend few days there with nice friends. Saya beruntung berkesempatan menghabiskan me time di sana dengan beberapa teman. Bener-bener me time yang sangat berkesan
Negara kecil ini memiliki banyak sekali tempat yang dipromosikan dan dipelihara dengan baik. Dari wisata kuliner hingga tempat-tempat asik untuk anak, seni dan budaya, petualangan, hingga wisata belanja yang menghabiskan isi dompet :p.
Berikut beberapa tempat menarik untuk dikunjungi di Singapura, untuk ibu-ibu dengan waktu dan dana terbatas seperti saya :p.
1. Orchard Road
Saya yakin semua pernah denger tempat shopping terpanjang ini :p. Dengan trotoar yang lebar, benar-benar memanjakan pejalan kaki! Sayang harga-harga di sini rada kemahalan untuk saya he he.. Berbagai shopping mall berderet di sepanjang trotoarnya... dengan berbagai toko menarik di dalamnya. Rasanya semua merk terkenal bisa ditemukan di sana, dari Esprit, Gap, Zara, Mango hingga Gucci, LV, Bulgary dan semua merek lain yang susah saya ucapkan hihi..
Terus terang, kalau soal belanja fashion saya lebih suka belanja di dept store atau ITC di Jakarta dan Factory Outlet di Bandung. Karena harganya lebih bersahabat dengan kantong saya, dan modelnya juga lebih banyak yang jilbab friendly :p. Di Orchard saya lebih suka window shopping, melihat baju, sepatu, tas, dan berbagai pernak-pernik yang memanjakan mata.
Saya juga sukaaa sekali mengamati berbagai gaya fashion para pengunjung mall. Berbagai gaya bisa ditemukan di sana.. dan yang membuat saya terkagum-kagum adalah menemukan banyaknya high heels yang berseliweran dengan lincah. Banyak sekali sepatu cantik yang bikin saya ngiler hehe.. (walaupun kayaknya ga mungkin bakal saya beli, mo dipake ke mana di kampung saya ini.. :p).
Selera fashion para pengunjung orchard sungguh sangat bervariasi. Banyak yang sangat modis dengan mini dress dan high heels, pekerja kantoran dengan busana kerja yang keren, hingga jeans dan kaos yang santai. Pengunjung juga sangat bervariasi, dari wajah-wajah oriental dengan kulit terang dan mata sipit, kaukasia yang jangkung dan berambut berwarna, arabian style yang khas hingga afrika dan ras melayu seperti saya dan rombongan. Semuanya bergerak dengan semangat yang sama.. semangat untuk menikmati pemandangan hasil kapitalisme yang membangkitkan nafsu konsumerisme he he..
Yang paling menyenangkan untuk saya adalah saat duduk-duduk di air mancur depan mall Nge Ann City sambil menikmati sepotong es krim khas Singapura. Es krimnya berbentuk batangan yang padat, dengan berbagai rasa dari coklat, vanila, kacang hingga choco chips favorit saya. Dibungkus dengan wafel atau roti, es krim seharga Sin$ 1 ini benar-benar nikmat.. apalagi saat dinikmati bersama teman-teman baik sambil memandang keindahan dekorasi natal yang meriah dan lalu lalang para pejalan kaki berbagai gaya di trotoar Orchard. Saat menikmati es krim ini saya benar-benar tidak peduli dengan besarnya kalori yang masuk perut saya :p.

Must have seen place! IKEA adalah toko perabotan berdesain simple yang sangat lengkap. Di sini kita seakan-akan berjalan dari ruangan ke ruangan lain dengan desain yang menarik dengan furniture dan pernak-pernik yang simple, dengan harga yang lumayan terjangkau. Toko ini adalah favorit saya, terutama bagian pernak-pernik anak-anaknya yang lucu-lucu dan berwarna-warni meriah dan tempat-tempat penyimpanan yang unik dan praktis. Di Singapore, Ikea ada di jalan Alexandra dan Tampines.
Oya, untuk pecinta Charles & Keith, di depan Ikea Alexandra ada mall Anchorpoint yang di dalamnya ada outlet C&K. Di situ semua produk baik tas maupun sepatu didiskon 50%. Sayangnya tampaknya yang dijual adalah model-model lama, dan kadang-kadang ada yang cacat/dekil. Di mall ini juga ada outlet Giordano dan beberapa merk lain.
Di sini ada patung Merlion setinggi 8,6 meter dengan berat 70 ton! Berbentuk patung setengah singa setengah ikan, yang menggambarkan apa yang ditemukan Pangeran Sang Nila Utama saat dia 'menemukan' Singapura. Dengan air mancur di mulutnya, percikan-percikan air akan memberi kesejukan, saat kita menikmati pemandangan Esplanade Bridge yang indah, dan memandang kapal-kapal yang lewat di Marina Bay. Taman ini sangat menyenangkan untuk duduk-duduk sambil berfoto, mengobrol dan menikmati secangkir kopi hangat di starbuck :p.
4. Mustafa Center dan Lucky Plaza
Mmm.. tempat ini menurut saya rada mirip dengan Mangdu. Penuh dengan segala barang! Merupakan sumber oleh-oleh seperti coklat, kaos, gantungan kunci, dan berbagai pernak-pernik bertuliskan Singapore. Sekedar tips, jika anda berbelanja di Lucky Plaza, sempatkan untuk melihat ke banyak tempat sebelum memutuskan untuk membeli, untuk menemukan harga termurah.
Masih banyaaak sekali tempat yang bisa dikunjungi di Singapura, tergantung dengan rencana perjalanan dan tujuan anda. Oya, untuk saya yang rada-rada miss planning, rencana perjalanan sangat penting, karena bisa menuntun saya untuk bisa mengunjungi semua tempat yang saya inginkan dan (hanya) membeli yang saya perlukan :p.
Tips terpenting dari saya adalah: pakailah alas kaki yang nyaman! Pasti lebih banyak jalan kaki di sana. Dan, sayangnya di lokasi umum tidak banyak kursi yang tersedia untuk melemaskan kaki. Pakailah juga busana yang nyaman, simple dan menyerap keringat karena dijamin anda akan lebih banyak menghabiskan waktu di luar. Di tempat-tempat umum, pastikan untuk mematuhi semua aturan yang berlaku, terutama tentang kebersihan dan aturan berlalu lintas. Mari kita tunjukkan bahwa orang Indonesia pun bersih, tertib dan rapi :p.
Untuk urusan dana, rupiah bisa ditukar ke dollar Singapura di berbagai tempat. Banyak sekali money changer di sana. Survey ke beberapa tempat yang berdekatan untuk mendapatkan harga yang terbaik. Pastikan koin-koin uang kecil disimpan rapi di tempat yang mudah dijangkau, karena sangat bermanfaat untuk membayar bis, MRT hingga membeli es krim nikmat di Orchard :p.
Jika memang berencana untuk wisata kuliner, ada banyaaak sekali tempat makan yang bisa dicoba. Tapi jika urusan makan bukan prioritas, ada baiknya membawa pop mie (punten, bukan promosi) yang praktis. Harga air kemasan juga sangat mahal di sana, sekitar Rp 12.000 per setengah liternya.
Transportasi sangat mudah di Singapura. Banyak pilihan berbagai moda transportasi, dari bus, taksi hingga MRT. Ongkos bus dan MRT bervariasi sekitar Sin$ 0.5 hingga Sin$ 4 tergantung tujuan. Ongkos taksi untuk berkeliaran di daerah pusat kota sekitar Sin$ 4 hingga Sin$ 12 tergantung jarak. Oya, saat menunggu taksi, pastikan mengikuti antrian dengan rapi :p.
Selamat berlibur... Have fun :p
Read More..
Posted in
cerita ibu,
liburan
|
Written on Sunday, November 30, 2008 by fitri
Selama lebih dari 20 tahun saya terbiasa menuliskan nama pemberian ortu: Fitri O********. Identitas itu yang saya bawa ke mana-mana. Setelah menikah pun, walaupun di kantor memungkinkan menggunakan surname, saya tetap menggunakan nama saya sendiri, karena saya dan suami (seperti sebagian besar orang Indonesia) tidak punya nama keluarga maupun nama marga. Nama itu melekat di alamat email, kartu nama, panggilan yang menunjukkan identitas saya sebagai seseorang.
Setelah berhenti bekerja rasanya nama saya jadi terdegradasi he he. Apalagi setelah mulai sering ikut kegiatan ibu-ibu di kompleks, nama saya jadi berubah. Jadi Fitri A*** G******.. atau Ibu A***. Sampai sekarang saya masih sering lupa, menulis absen dengan nama pemberian orang tua. Maklum kebiasaan lama :p.
Di sekolah anak, nama saya berubah lagi mengikuti nama anak. Saya dikenal sebagai 'Mama Zaka'. Panggilan itu sempat membuat Zaka bingung lo.. soalnya di rumah dia mengenal saya dengan 'Ibu', bukan mama.
Daaaan.. anehnya hampir semua orang tua murid memang mengenalkan diri dengan nama anaknya. Ada mama Afif, mama Arif, mama Dimas, mama Sarah dll. Rasanya tidak banyak yang mengenalkan diri dengan namanya sendiri.
Setelah saya punya Annisa, nama saya berubah lagi. Banyak yang memanggil saya dengan Fitri Annisa.. he he.. Seakan-akan Annisa adalah identitas tambahan yang melekat pada diri saya ;-).
Kenapa ya kita merasa perlu menambahkan sesuatu di belakang nama seseorang dengan nama suami/anak, atau dalam kasus saya, toko yang saya kelola? Semoga untuk memudahkan dalam mengingat dan membedakan dengan orang lain. Bukan karena identitas pribadi seorang istri/ibu jadi kurang penting setelah bersuami atau memiliki anak? Nama itu identitas yang unik bagi tiap orang bukan? Dengan terpinggirkannya nama semasa gadis, apa berarti terpinggirkan pula kehidupan pribadi seorang wanita yang sudah menikah? Hmmm...
Dalam drama Romeo & Juliet, Shakespeare menuliskan dialog Juliet,
"What's in a name? That which we call a rose
By any other name would smell as sweet."
-- Mawar akan tetap wangi, apapun namanya..
Jadi, apalah arti sebuah nama :p.
Read More..
Posted in
cerita ibu,
just a thought
|
Written on Sunday, November 30, 2008 by fitri
Beberapa waktu yang lalu saya mendapat pertanyaan ini. Who am I? Siapakah saya? Hemm.. jika anda yang mendapat pertanyaan ini, apa jawaban anda? Apakah anda dapat dengan mudah menggambarkan diri anda, kepribadian anda, cita-cita dan mimpi anda? Apakah anda tahu jawabannya?
Kenapa harus ada pertanyaan itu? Tidak dapatkah kita menjalani hidup tanpa berpikir, mengalir seperti air dan menghanyutkan diri dalam segala kejadian di sekeliling kita? Bisakah kita menjadi zombie, berpusat pada ego pribadi dan terus maju tanpa perlu mempertanyakan hakikat keberadaan kita di dunia?
Saya jadi ingat pernyataan dari filsuf besar masa lalu, Rene Descartes di abad ketujuh belas. "Cogitu Ergo Sum". Yang dalam bahasa Indonesia berarti "Saya berpikir maka saya ada". Saya berpikir, maka saya ada. Maksud yang saya tangkap adalah adalah "saya adalah apa yang saya pikirkan".
Belajar mengenali diri sendiri adalah bagian dari proses mengenali jati diri yang sesungguhnya. Selain itu, mengenali diri sendiri seharusnya bisa menjadi proses awal mendeteksi kelebihan dan kekurangan kita.
Saya yakin, ada beberapa jawaban untuk pertanyaan itu. Mungkin mudah untuk sebagian orang, sangat sulit untuk yang lainnya. Untuk saya, jawaban yang menunjukkan identitas diri saya saat ini adalah, "Saya seorang ibu dari dua anak laki-laki terkasih". Identitas inilah yang terpenting bagi saya saat ini, di antara banyak jawaban lainnya.
Kenapa? Karena saya belajar banyak mengenai hidup, justru dalam lima tahun yang pendek dalam kehidupan saya. Saya belajar kehidupan dari anak-anak saya. Perjuangan mengenali mereka membawa saya makin mengenali diri sendiri. Seorang teman juga menerangkan bahwa bagaimana seorang ibu memandang dirinya, akan berpengaruh besar dalam bagaimana dia mendidik anak-anaknya. Jawaban-jawaban yang diberikan seorang ibu untuk pertanyaan "Siapakah Aku" akan tercermin dalam hubungannya dengan anak-anaknya.
Ini sebenarnya ga nyambung, tapi saya jadi teringat dengan lirik lagu Metallica, favorit saat kuliah dulu hihi.. judulnya Sad but True
Hey
I'm your life
I'm the one who takes you there
I'm your life
I'm the one who cares
they
they betray
I'm your only true friend now
they
they'll betray
I'm forever there
I'm your dream, make you real
I'm your eyes when you must steal
I'm your pain when you can't feel
sad but true
I'm your dream, mind astray
I'm your eyes while you're away
I'm your pain while you repay
you know it's sad but true
Hm.. masa muda sudah lewat :-D.
Jika pertanyaan itu untuk anda, apa jawaban anda?
Read More..
Posted in
cerita ibu,
just a thought
|