Saturday, September 27, 2008

Untuk para suami :p

Artikel yang menarik. Diambil dari Pikiran Rakyat, edisi cetak tahun 2007

Sedekahkan Waktu untuk Para Ibu
Oleh Maya A. Pujiati


Sangat menarik tulisan Bapak Adriano Rusfi yang dimuat ”PR”, 13 Oktober 2006. Sebuah fakta yang tak dapat disangkal bahwa meski modernisme sudah banyak memengaruhi kita, tradisi menyangkut posisi gender tak banyak bergerak, kecuali hanya pada tataran permukaan, namun tak menyentuh substansi.

Sebuah sumbangsih dari seorang bapak yang bersedia membuka mata para ayah yang mungkin lupa untuk menunaikan hak para ibu yang tak lain adalah teman hidupnya yang setia.

Para ibu adalah tameng keluarga untuk mengatasi persoalan domestik. Anak yang rewel, cucian yang menumpuk, berbelanja keperluan makan, membersihkan rumah, mengatur uang belanja, hingga menyeterika baju adalah tugas yang diembankan tradisi bagi para ibu. Meski tidak pernah termaktub secara tertulis dalam sebuah undang-undang, begitulah kenyataannya masyarakat menuntut para ibu. Acapkali dengan tuntutan itu ada hak-hak ibu tak lagi tampak sebagai hak, kecuali hanya sebuah pilihan jika situasinya memungkinkan. Satu hak ibu yang sering diabaikan adalah waktu untuk dirinya sendiri.

Ironisnya para ibu kadang-kadang tak menyadari akan hak tersebut. Tradisi telah membentuk perempuan tak lagi punya pilihan lain, sehingga ketika tiba mereka "teraniaya", mereka merasa bahwa menuntut haknya adalah sebuah kesalahan. Ketika mereka memilih untuk diam, satu sisi dalam batin mereka tetap menderita. Itulah dilema yang melanda para ibu. Macam-macam pilihan kerap muncul sebagai cara untuk melumerkan masalah yang dihadapinya. Ketika pilihan yang diambil itu positif mungkin berakhir baik. Namun tak jarang, ketika para ibu melakukan selftalk alias bicara sendiri dalam waktu yang cukup lama, pikiran yang datang justru memusnahkan harapan hidupnya. Hatinya larut dalam kesedihan yang bahkan tidak dapat mereka definisikan penyebabnya.



Benarkah setelah perempuan menjadi ibu, maka ia tak lagi berhak untuk berkarya. Siapa pun yang memahami agama, takkan mampu menemukan hujjah yang membenarkan pendapat itu. Semua sepakat, bahwa adalah hak ibu untuk merasa bahagia dalam perspektifnya yang merdeka, namun para ayah tak jarang malah mengabaikan sudut pandang si ibu dalam memandang kebahagiaan. Pernikahan yang telah berlangsung cukup lama biasanya mengaburkan identitas pribadi pasangannya masing-masing yang pada awalnya jelas berbeda satu sama lain. Padahal tanpa mengacaukan kebersamaan, menghargai identitas pribadi masing-masing adalah bagian yang indah dari kehidupan.

Bagi ibu yang telah mengenyam pendidikan tinggi, letupan-letupan di dalam hati yang mengajaknya untuk berkarya pasti selalu ada. Itulah satu bentuk kebahagian lain setelah mereka temukan kebahagiaan di ranah domestik. Jangan selalu dikira bahwa ketika seorang ibu mengatakan bahwa ia jenuh dan bosan di rumah, berarti mereka ingin bekerja keluar untuk mengais rupiah.

Seperti juga para ayah, para ibu membutuhkan variasi dalam kehidupannya, agar semangat hidupnya tetap menyala. Sebagian ibu mungkin menjaga semangat hidup mereka dengan berkompetensi membentuk anak-anaknya menjadi anak yang hebat secara intelektual, namun sebagian yang lain justru lebih bergairah hidupnya jika ia diberi waktu untuk mengekspresikan gagasan dan keterampilan yang dimilikinya dalam wujud-wujud aktivitas kongkret. Apa yang dibutuhkan ibu pada kelompok kedua? Mereka hanya butuh sedekah dari para suaminya berupa waktu luang, di mana mereka bisa mengaktualisasikan dirinya usai menunaikan kewajibannya pada keluarga.

Sebelum si ibu menikah, mungkin ada beberapa keterampilan yang sedang dikembangkan. Pernikahan dan kehamilan menghalangi mereka untuk meneruskannya. Tetapi ketika anak-anak beranjak besar, tentu tak ada salahnya para ayah membagi waktu istirahatnya untuk menjaga dan menemani anak-anak, semata demi membagi satu sisi kebahagiaan yang mungkin hanya akan dirasakan istrinya.

Biarkan sejenak sang ibu merasakan bahwa dunia ini luas, tak hanya dikelilingi tembok dan rengekan bocah-bocah kecil mereka. Teori bahwa bersosialisasi adalah kebutuhan hidup tak dapat diabaikan. Ketika kebutuhan untuk itu dihambat, maka manusia akan menderita. Tentu para ayah tak ingin tragedi terjadi pada keluarganya hanya karena si ibu tidak bahagia. Sungguh patut disadari, ketika ibu dijadikan sandaran untuk mengayomi seluruh penghuni rumah ketika si ayah pergi, ia harus bebas dari perasaan tertekan. Jika tidak, janganlah merasa aman menitipkan anak-anak dalam asuhan mereka.

Sepulang kerja, para ayah umumnya menyiapkan dirinya untuk dilayani. Mereka mungkin berdalih, bahwa mereka lelah. Oh, sadarilah bahwa istri di rumah bukan hanya duduk termangu seharian. Begitu banyak yang harus dikerjakan atas nama kewajiban dan tanggung jawabnya terhadap seisi rumah. Bedanya, mereka tak dapat income dari seluruh pekerjaan yang dilakukannya di rumah, sedangkan suami datang membawa uang.

Sesekali para ayah mungkin harus mencoba untuk melakukan pekerjaan istrinya sehari penuh. Rasakan capainya dan bayangkanlah bagaimana sang istri merasakan hal yang sama setiap hari. Bisa jadi cara ini akan membuat para ayah lebih berempati pada si ibu.

Dua atau tiga jam dalam sehari setelah suami pulang kerja, atau mungkin seharian penuh di hari Minggu bisa jadi cukup untuk para ibu mengaktualisasikan kemampuannya. Adapun jika mereka memperoleh penghasilan dari apa yang mereka usahakan, tentu adalah hak istri untuk mempergunakannya sesuai keperluannya. Itu hanyalah bonus dari apa yang mereka usahakan. Bahkan tak jarang mereka juga mau membaginya untuk para ayah, semata sebagai rasa terimakasih atas waktu yang telah diberikan untuk mereka.***

(Penulis, Ibu Dua Anak, Tinggal di Bandung).