Sunday, October 12, 2008

Lebaranan di Duri

Bagaimana rasanya tidak mudik lebaran? Setelah 5 tahun berturut-turut selalu pulang kampung, baru tahun ini kami merasakan lebaran di rantau. Mencicipi lebaran tanpa menikmati kehebohan mudik, dan turut berempati pada pemudik di sepanjang jalur pantura, dengan segala kehebohan dan romantikanya. Lebaran tanpa lezatnya masakan mamah, tante dan uwa, lengkap dengan Gulai Kepala Kambing! Masakan eksotis yang sangat lezaaaat (:p) dan hanya ada di meja makan saat Idul Fitri dan Idul Adha. Lebaran tanpa hiruk pikuk malam lebaran, dengan jalanan macet di semua tempat, toko tutup di saat terakhir, dan suara takbir bertalu-talu dalam perjalanan Takbir Keliling. Lebaran tanpa keindahan saat terlelap dininabobokan suara takbir dari mesjid dekat rumah. Lebaran tanpa obrolan nyaman dengan ortu, adik-adik, uwa, oom, tante, keponakan, sepupu-sepupu, mertua, adik dan kakak ipar, tetangga di kampung dan kerabat, bertemu dengan mereka adalah kemewahan Lebaran yang sesungguhnya..

Liburan lebaran ini kami sekeluarga tidak mudik ke kampung. Pengen sekali-sekali ngerasain 'nikmatnya' berlebaran di rantau :p. Apalagi suami juga mendapat jatah jaga kandang taun ini, setelah 5 tahun kami selalu dapat cuti saat lebaran.

Lebaran di rantau ternyata asik juga.. yang pasti lebih santai :D. Biasanya lebaran diisi dengan kehebohan mudik (dan beberes koper dan oleh-oleh sejak seminggu sebelumnya) , perjalanan panjang lebih dari 12 jam dari rumah ke Cirebon. Nikmatnya bersilaturahmi dengan keluarga di kampung dan wisata kuliner biasanya dibarengi dengan capeknya mengejar 2 balita yang seringkali susah makan saat berlibur. Belum lagi memasak, mencuci dan segala kehebohan lainnya. Anak-anak juga kurang enjoy dengan tradisi bertamu ke para tetangga di kampung. Lima rumah pertama biasanya si besar masih bertahan, selanjutnya akan pasang muka sebal, bosan dan mulai berulah.

Idul Fitri kali ini si teteh ga pulang. Jadi suasana lebaran tetap terasa dengan masakan lebaran lengkap: ketupat, sayur lodeh tempe godok, semur daging, opor dan sate ayam.. mmm... Mengajarkan anak-anak untuk taraweh dan sholat subuh di mesjid selama bulan puasa juga membangkitkan nuansa lebaran yang syahdu. Dan, walaupun suara takbir dari mesjid tak terdengar, suara takbir tetap ada di rumah.. dari komputer! Thanks to youtube :-D.

Sholat Ied juga berkesan karena hujan. Untung kami membawa payung. Jadi sambil duduk menunggu waktu sholat, Kishan dan Zaka tetap aman dari hujan :p. Zaka di depan bareng ayah.. Kishan bareng ibu dan teteh. Walaupun gerimis (hampir) semua jamaah tetap duduk tenang hingga ceramah usai lo.. hanya Kishan yang tidak tahan pengen ke kamar mandi.. jadi ibu harus pergi sebelum ceramah selesai.

Tidak ada adegan balita ngambek di acara silaturahmi :-D. Wah.. ini momen lebaran yang paling menyenangkan untuk saya :p. Bersilaturahmi yang santai, tidak terlalu banyak rumah yang harus didatangi, membuat anak-anak tetap bersemangat saat bertamu. Mungkin juga karena tahun ini mereka segar, tidak lelah oleh perjalanan mudik yang panjang seperti tahun-tahun sebelumnya. Juga tidak bosan karena banyak sekali orang asing yang harus disalami di tempat-tempat yang baru juga :-/.

Kota kecil kami yang lengang setelah Idul Fitri juga selalu menjadi tempat yang asik untuk anak-anak. Jalan yang (sangat) sepi membuat mereka bebas bermain dan bersepeda. Selama masih bersama ayah dan ibu, rasanya mereka cukup happy walaupun lebaranan di pinggir hutan ha haa..

Momen lebaran adalah momen istimewa.. yang ditunggu banyak orang. Pelajaran yang saya dapat lebaran ini, adalah makin menyadari bahwa rumah adalah tempat di mana kita bersama orang-orang terkasih. Lebaran akan indah di manapun kita berada, selama bersama dengan keluarga tercinta.

Selamat Lebaran. Mohon maaf lahir dan batin.