Saturday, March 24, 2007

Jika Anak Anda Diare dan Muntah

Saat cuti kemaren, kami mendapat musibah, si kecil Kishan muntah-muntah (lebih dari 20x sehari!) dan diare sehari menjelang ulang tahunnya.

Kalian yang (pernah) punya bayi mungkin pernah merasakan sedihnya saat anak muntah, gak gampang lo menyuapi anak. Rata-rata saya butuh sekitar 1 jam untuk menyuapi Kishan sampai dia menghabiskan porsinya. Nah, saat dia muntah rasanya bete juga melihat makanan yang susah payah kita masukkan dikeluarkan lagi…hiks. Bayangkan, saat itu dia muntah lebih dari 20x sehari!

Seminggu yang lalu muntahnya dimulai jam 11 malam, terus berlanjut hingga jam 2 pagi saya bawa ke emergency di rumah sakit terdekat. Dokter jaga di sana meminta agar saya terus berusaha memasukkan makanan, dan memberi obat penetral asam lambung untuk anak karena muntahan Kishan hanya berisi cairan asam lambung.

Paginya Kishan mulai saya beri pedialite, oralit untuk anak. Alhamdulillah anak saya itu masih mau makan dan lumayan doyan pedialite. Saat kekhawatiran saya mulai berkurang (berganti capek dan mengantuk karena begadang), Kishan mulai diare. BAB adalah air yang keluar dalam jumlah besar, setelah sebelumnya Kishan menangis-nangis karena mules. Duh, kasihan anakku.

Hari ini, tepat seminggu setelah mulai sakitnya, alhamdulillah Kishan sudah sembuh. Sejak kemarin muntahnya tidak ada lagi, BAB nya juga normal lagi. Saya jadi ingin berbagi tips-tips yang bisa dilakukan saat anak muntah dan diare. Tips ini saya dapat dari file “Common Problem in Pediatrics” dari milis sehat yang menekankan pada Rational Use of Drugs (RUD). Berikut tips nya:

DIARRHEA - VOMITING

Hampir serupa dengan batuk, diare & muntah adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan pada manusia. Diare & muntah adalah mekanisme alami tubuh untuk mengeluarkan racun, virus/kuman yang masuk ke dalam tubuh. Diare & muntah itu ibarat alarm tubuh untuk memberitahukan bahwa ada sesuatu yg tidak beres dalam tubuh kita.
Yang perlu dilakukan adalah mencari PENYEBAB nya.
Tidak perlu diberikan obat anti muntah atau obat untuk “mampet”kan diarenya. Obat-obat tsb memang akan mengurangi/menghentikan diare/muntah, tetapi tidak mengobati penyakitnya.
Perbaikan tersebut bersifat “semu”. Ibarat bom waktu. Kita terkecoh seolah anak membaik, padahal penyakitnya masih terus berlangsung. Selain itu, obat2 tersebut juga bukan tanpa risiko / efek samping.

PENYEBAB:

  • >80% penyebabnya pada anak, terutama bayi, adalah virus. Dikenal juga dengan ROTAVIRUS.
  • Food poisoning
  • Alergi makanan
  • Pemakaian antibiotik.

TATALAKSANA – CEGAH DEHIDRASI - Minum banyak


  • ASI diteruskan, campur dg Oral rehydration Solution (ORS) seperti pedialit atau oralit.
  • Perbanyak minum.
  • Bila diare hebat, fokus pada upaya rehidrasi (menjaga agar tidak dehidrasi). Kalau perlu, untuk sementara waktu tidak perlu makan sampai dehidrasi teratasi

Kapan menghubungi dokter?
  • Ada darah di tinja atau tinja berwarna hitam
  • Tanda-tanda dehidrasi berat : tidak buang air kecil > 8 jam, bibir kering, air mata kering ketika menangis, skin turgor menurun (jika tangan dicubit, tidak akan kembali seperti semula), mata cekung, abdomen (sekitar perut) cekung, fontanelle (ubun-ubun) pada bayi cekung.
  • Luar biasa mengantuk, sulit dibangunkan
  • Luar biasa lemas, layu

PRINSIP:
  • Umumnya tidak perlu diberi antibiotik, antibiotik hanya bila tinja berdarah (butuh evidence/lab). Pada banyak kasus, antibiotik justru akan memperparah diarenya. Belum lagi pemakaian antibiotik tidak pada tempatnya akan menyebabkan infeksi tambahan oleh jamur/fungus/candida
  • Jangan minum obat untuk menghentikan diare seperti primperan, motilium, juga tidak perlu minum Kaopectate, smecta, ensim, dsb.
  • Pada diare biasa, tidak perlu mengganti susu formula.

Sekedar masukan, dari dokter Kishan memang mendapat obat anti muntah, obat maag, pengental BAB (kaopectate) dan antibiotik. Hampir semuanya tidak saya berikan, selain karena ditolak Kishan (dimuntahkan lagi), dokter juga menekankan bahwa yang paling penting adalah menjaga agar elektrolit di tubuhnya tidak terlalu banyak berkurang (dengan pedialite).

Saya berusaha memasukkan pedialite sebanyak-banyaknya, minimal 100 ml per kg berat badan per hari. Setelah menghabiskan 3 botol pedialite ukuran 500 ml saya coba berikan air kelapa muda yang juga baik untuk mengganti elektrolit tubuh. Oya, saat sakit itu setiap hari waktu dihabiskan Kishan untuk..makan, minum dan tidur. Saya juga mengambil sample feses Kishan untuk dites di laboratorium, dan ternyata tidak ada bakteri, cacing maupun jamur di dalamnya, yang ada adalah antigen Rotavirus.

Semoga bermanfaat.

2 comments:

yn said...

tks ya infonya, cos ciri2 nya persis kayak anak saya, yg lagi batuk pilek di sertai muntah yg hebat

Bang rachmat said...

sama seperti putri saya saat mengalami muntaber, saat dibawa ke dokter juga tidak diberikan obat untuk menghentikan bab dan muntahnya,karena kelak keduanya akan berhenti dengan sendirinya, putri saya menghabiskan 2 botol pedialite baru kemudian kondisinya membaik.