Saturday, July 10, 2010

Sedikit tentang Demam Berdarah, Nice to Know...

Saat Zaka dirawat di RS karena DB, saya meluangkan waktu untuk browsing, mencari tulisan tentang demam berdarah. Dan saya menemukan banyak cerita tentang yang bertahan melewati penyakit ini, tapi tidak sedikit juga kisah sedih yang tertulis. Karena Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. (info dari sini)

Sebagian besar dari kematian yang terjadi adalah akibat keterlambatan penanganan. DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, bukan bakteri, sehingga pengobatannya tidak menggunakan antibiotik. Sampai saat ini, belum ada obat khusus untuk membasmi virus demam berdarah yang terlanjur menginfeksi tubuh belum ditemukan. Pengobatan hanya ditujukan untuk mengatasi efek yang ditimbulkan oleh virus, seperti demam, kebocoran pembuluh darah, turunnya tekanan darah, dan lain-lain. Virus sendiri diharapkan akan diatasi imunitas tubuh kita.

Seseorang yang terkena DBD mengalami perubahan dalam permeabilitas pembuluh darah. Dinding pembuluh darah menjadi mudah ditembus cairan tubuh, akibatnya air dari pembuluh darah akan masuk ke dalam jaringan. Tubuh akan membengkak dan terjadi gejala pengentalan darah karena pembuluh darah kehilangan cairan. Hal ini terjadi pada anak saya, Zaka. Sejak demam hari ke-4 dia mulai membengkak. Pipinya gendut, tangan dan kakinya membesar dan perutnya membuncit dan terasa sangat keras. Beda lo rasa perutnya dengan kembung biasa, bila ditepuk dengan jari perutnya terasa padat, padahal dengan konsumsi makanan yang sangat sedikit selama sakit, tidak mungkin isi perutnya adalah makanan ;).

DBD identik dengan kadar trombosit yang makin lama makin rendah. Tapi pengobatan penyakit ini bukan dengan transfusi trombosit (kecuali untuk 'save life', ini istilah dokternya Zaka ;)). Pasien DBD mengalami kekurangan cairan (walaupun tampak luar badannya bengkak dan kembung, teuteuup yang namanya DBD mah kurang cairan) sehingga dibutuhkan cairan yang banyak untuk mengatasi efek kebocoran plasma, mengencerkan darah sehingga darah tidak pekat dan oksigen mudah dialirkan, dan meningkatkan trombosit.

Hal yang paling penting dalam DBD ini adalah diagnosis. Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil tes darah. Saya mah mengimbau pada para ibu untuk waspada, dan melakukan tes darah saat anak demam. Di hari ke-3 demam, biasanya hasil tes darah bisa menunjukkan adanya penurunan trombosit, leukosit dan kenaikan hematokrit yang bisa menjadi indikator virus DBD dalam darah.

Oya, walaupun bukan dokter saya ingin berbagi info tentang istilah-istilah yang dekat dengan DBD ya. Pengalaman saya mah, istilah-istilah tersebut membantu saya 'membaca' kondisi Zaka saat sakit. Para dokter.. tolong maafkan kalau salah ya... dan mohon ditambahkan ;).

Trombosit
Trombosit atau keping darah berperan dalam proses pembekuan darah. Jumlah trombosit yang rendah bisa menimbulkan pendarahan karena proses pembekuan darah terganggu. Makanya saat trombositnya mencapai 50 ribu Zaka dilarang dokter untuk menyikat gigi, menggaruk, mengupil (hihiii.. itu mah selalu atuh ;p) dan digunting kukunya, untuk menghindari pendarahan yang sulit dihentikan jika ada luka.

Oya, trombosit yang rendah belum tentu berarti DBD lo. Penyakit lain seperti demam tifoid dan chikungunya juga bisa menyebabkan trombosit rendah. Jumlah trombosit normal adalah 200.000 - 400.000 keping/mm2. Di RS tempat Zaka standarnya adalah minimal 150.000 untuk rawat inap.

Leukosit
Sel darah putih atau leukosit adalah sel yang membentuk komponen darah. Sel ini berfungsi membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh. Jumlah yang sehat dalam tubuh adalah 7000-25.000 sel per tetes (wikipedia).

Leukosit tinggi berarti tubuh kita sedang melawan infeksi. Leukosit rendah (leukopenia) berarti tubuh kurang mampu melawan infeksi. Pada Zaka saat sakit DBD leukositnya berkisar antara 3000-5800.

Hematokrit
Hematokrit adalah proporsi volume darah yang berisi sel darah merah. Bahasa awamnya (yang saya mengerti heuheu) adalah kekentalan darah. Makin tinggi nilainya berarti makin kental darah, makin sedikit cairan di dalam pembuluh darah sehingga sulit untuk mengalirkan oksigen. Untuk anak Indonesia nilai hematokrit yang normal adalah 37-43%.

Saat trombositnya 50 ribu, hematokrit Zaka mencapai 49,2%. Padahal di atas 40% saja sudah dianggap tinggi. Tingginya hematokrit mengindikasikan adanya perembesan cairan keluar dari pembuluh darah, sehingga darah makin kental.

Albumin
Albumin adalah protein dalam darah yang diperlukan tubuh untuk memelihara dan memperbaiki jaringan. Albumin dalam darah membantu pembuangan cairan dengan cara menarik cairan yang berlebih dalam jaringan, kembali pada darah.

DBD bisa menyebabkan hipoalbuminemia, yaitu kekurangan kadar protein albumin dalam darah. Pada saat dirawat kadar albumin Zaka mencapai 2,6 g/dL. Padahal kadar normal albumin berkisar antara 3,8 - 5 g/dL. Selama dirawat 5 hari Zaka menghabiskan 3 botol albumin selama 3 hari. Fyi, kalau di rumah sakit umum harga albumin untuk infus ini lumayan mahal lo, kalo ga salah di atas 1,5 juta per botol.

Makanan penambah trombosit
Di luaran banyak informasi tentang makanan/minuman/suplemen yang bisa meningkatkan kadar trombosit. Yang sering dibahas adalah pocari, jus jambu biji, jus kurma, angkak, propulis hingga (yang paling enak nih ;p) es krim haagen dazs. Pada kasus Zaka, tidak ada yang memberikan pengaruh signifikan. Pada sepupu Zaka yang kena DBD pada waktu yang sama, es krim ini menaikkan trombositnya lo :).

Karena pencernaannya terganggu (mual berat, muntah-muntah, bahkan Zaka diare di hari ke-3 sampai ke-5 demam) maka Zaka nyaris hanya mengandalkan air putih (dan cairan infus). Pocari memang diminumnya hingga 1-2 liter perhari di awal demam, tapi ternyata kandungan asam di dalamnya membuat perutnya makin mual, begitu pula dengan jus jambu dan jus kurma yang makin merangsang muntahnya. Mungkin berbeda untuk tiap orang ya.. saya yakin ada yang berhasil :).

Menghadapi anak yang sakit rada beurat seperti DBD ini saya ingin berbagi beberapa tips:

1. Selalu waspada dengan demam. Jangan biarkan demam tinggi terlalu lama. Minggu kemarin demam Zaka mencapai 40,6 derajat celsius, hingga dia sangat gelisah, bahkan mengigau. Padahal baru diberikan penurun panas 3 jam sebelumnya. Untuk mengurangi panasnya, saya mengompres dan memandikannya dalam bathtub berisi air hangat. Lumayan sih, demamnya berkurang hingga 39 derajat. Setelah masuk RS saya baru tahu, bahwa ternyata ada obat panas yang bisa dimasukkan ke dubur saat demam lebih dari 39 derajat. Dan obat itu bisa diberikan bahkan jika penurun panas baru diberikan. Bener ya para dokter?

2. Jangan abaikan keluhan anak seperti mual, sangat pusing, pegal-pegal, sakit perut, nyeri di belakang bola mata (saat sakit Zaka tidak suka lampu menyala terang dan televisi.. membuat matanya tambah sakit katanya)

3. Usahakan tes darah setelah demam 3X24 jam. Tampaknya tes darah adalah cara paling tepat untuk menegakkan diagnosis penyakit DB (kalau ga salah flu burung juga perlu tes darah)

4. Perhatikan nilai trombosit, leukosit, hematokrit dari tes darah. Jika semua indikator menunjukkan positif DBD kuatkan hati untuk dirawat ya :). Insya Allah rumah-rumah sakit dan para dokter sudah sangat aware dengan penyakit ini dan pasien bakal tertangani dengan baik

5. Pastikan asupan cairan cukup. Baik lewat minuman, maupun infus. Kata dokternya Zaka mah pas masa-masa krisis DBD yang paling penting adalah asupan cairan. Btw saya pernah baca bahwa asupan cairan yang terlambat bisa menyebabkan kekentalan darah tinggi, sehingga pembuluh darah rapuh dan sangat sulit untuk diinfus. Makanya penderita DBD yang sudah parah kadang-kadang memerlukan vena session, infus di bagian kaki (benar?) karena di tangan darah sudah membeku.. Subhanallah..

6. Ibu mesti sehat, sabar dan tegar ya :). Selain cairan infus, pasien perlu minum sesering mungkin. Pada anak kecil mungkin butuh bujukan ekstra ya.. karena mereka pasti lemes banget dan pengennya tiduuur heuheuuu.. Oya,cemilan kecil berprotein/karbohidrat tinggi (biskuit, oreo, roti tawar) bermanfaat banget buat ganjel perut si pasien dan yang nungguin :p. Jangan lupa tisue basah karena anak seriiiiing banget BAB dan BAK.. karena makin banyak BAK berarti asupan cairannya cukup. Perhatikan juga BAB anak (maaf), jika warnanya hitam langsung laporkan pada dokter/perawat.

Semoga kita dan anak-anak kita selalu diberi kekuatan dan kesehatan ya moms..

Dari berbagai sumber. Mohon maaf ya kalau ada kesalahan tulisan maupun istilah.. maklum saya bukan dokter :p

3 comments:

IbuDzakyFai said...

Trims banyak infonya.......Zajka dah sehat khan ya...

ke2nai said...

alhamdulillah kalo udah sehat ya.. DBD emang harus di waspadai. Kadang kita gak berasa di gigit nyamuk, tp tau2 kena DBD. Sy pernah ngalamin itu

MustBhagoezt said...

makasih atas infonya yang sangat berguna ini... maklum anak saya juga lagi kena DB dan malah ada berita simpang siur yang saya dapatkan..