

Saat mengenang masa lalu saya sadar bahwa ada begitu banyak perbuatan bodoh yang saya lakukan yang didorong oleh emosi dan ketidaksabaran. Kadang-kadang betapa malunya saya mengingat kebodohan dan kesalahan yang saya perbuat dengan SADAR di masa lalu. Betapa kadang-kadang saya memaki diri sendiri, dan ingin pindah ke dimensi lain saat sadar dengan kebodohan masa lalu :p. Jika saja hidup adalah sebutir coklat, dan semua kejadian memalukan yang saya alami akan habis dan menghilang begitu coklat tersebut ditelan :p.
Beberapa tahun yang lalu, seorang teman yang patah hati berat di masa remaja pernah berkata, "Mungkin gw peurih banget saat ini sebagai persiapan untuk menghadapi kepahitan yang lebih dahsyat di masa depan ya..? ". Kata-kata itu menempel di pikiran saya, dan kadang-kadang saat saya diterjang ketidak-enakan hidup dan harus menguatkan diri saya berpikir, "Untung dulu pernah patah hati.. ha ha haaa... ".
Masa lalu, telah menghadiahi kita masa kini. Bagaikan laba-laba yang merajut sarangnya, setiap loncatan yang dia lakukan akhirnya membentuk suatu desain kompleks yang menghasilkan makanan untuknya. Begitu juga ternyata semua kebodohan, kesalahan, kebaikan, ketidaksengajaan, kepahlawanan, dan berbagai hal kecil dan besar yang kita lakukan ternyata membentuk kehidupan masa kini yang kompleks.
Saya tidak ingin mengubah masa lalu. Kesalahan apapun yang saya lakukan di masa lalu telah membentuk kehidupan di masa kini yang saya syukuri. Deretan kisah patah hati masa lalu telah menghadiahi saya keluarga yang saya cintai :p. Kebodohan dan kesalahan telah memberi saya teman-teman dan sahabat-sahabat yang hebat. Masa lalu yang tidak sempurna telah memberi pelajaran dan pengalaman yang sangat berharga. Dan saya hanya bisa berharap dan berdoa, agar Allah senantiasa memberi saya petunjuk agar di masa kini saya bisa bertindak, berbuat dan berkegiatan yang menghasilkan hasil yang indah di masa depan.. dan keselamatan di akhirat kelak.. masa depan yang pasti saya temui..
Selamat tinggal De. Kamu memang telah sangat merepotkan saya. Tapi terima kasih atas segala pelajaran yang saya dapat karena kepergianmu (jangan harap saya mau menerimamu sebagai karyawan lagi :p). Selamat atas keberanianmu memperjuangkan keinginan (dan cintamu). Semoga Allah memberikan petunjuk dan kehidupan yang lebih baik untukmu..
Awalnya saya membeli mainan berdasarkan usia anak saya. Sebagai ibu baru, saat baru punya anak pertama saya membeli mainan berdasarkan 'panduan' di majalah untuk ibu baru. Ada mainan untuk menstimulasi visual, motorik ataupun sensori lainnya. Setelah punya anak kedua step by step membeli mainan bukan jadi panduan lagi.. karena si kecil sudah punya cukup lungsuran mainan dari kakaknya :p.
Saking senangnya pada mainan, saya membeli di segala tempat. Dari toko 6 ribuan sampai Toy's r Us. Dari garage sale sampai belanja online. Dari mainan rumit, sampai kardus bekas TV yang dibangun jadi rumah-rumahan pertama saat Zaka 1 tahun. Mainan juga ada di (hampir) semua ruangan di rumah saya. Soalnya arsitek-arsitek kecil saya selalu punya alasan untuk menaroh mainannya di mana saja :p.
Berdasarkan pengamatan saya, dari setumpuk mainan itu hanya beberapa yang benar-benar dicintai anak saya. Memang hampir semuanya dimainkan secara bergiliran. Tapi ada beberapa yang setiap hari pasti ditengok. Mungkin hampir seperti kalau blogwalking ya.. ada bbrp situs web yang selalu masuk daftar untuk ditengok :p.
Mainan favorit si besar adalah LEGO. Dari umur 2 taunan dia bisa menghabiskan waktu lamaaa untuk membangun menara warna-warni dari megablock. Sampai sekarang kalau sedang bergaul dengan legonya Zaka pantang diganggu. Karena mendapatkannya dengan susah payah (lego saya belikan sebagai reward kalau dia berprestasi tertentu sesuai kesepakatan), si ganteng ini cintaaa sekali pada tiap legonya. Yang menyebalkan adalah kalau ada satu bagian kecil yang hilang. Huuh.. ga gampang lo mencari satu plastik berukuran setengah sampai lima cm yang entah berada di mana. Saya heran, koq bisa ya Zaka ingat (hampir) semua koleksi legonya. Rumah bisa heboh kalau sebuah lampu kecil pesawat atau sepotong konektor lego lenyap..
Mainan favorit si kecil adalah segala kendaraan. Kishan selalu bergerak di atas sepeda roda 3 nya. Kalau Zaka mensabotase sepedanya itu, Kishan akan mengejar dengan sepeda roda 4 hadiah dari aki dan enin. Saat weekend yang longgar mereka berdua akan membuat rumah heboh dengan kendaraan berbaterai aki yang berisik, saling tabrak menabrak dan mencoba balapan di ruang tengah. Huaaaah.. heboh pisaan.. Skuter juga sering sekali lalu lalang di rumah. Zaka dengan skuter roda 2 nya sudah ahli atret dan bermanuver. Kishan dengan skuter roda 3 masih sering menjerit "Ibuuu.... toloooong" kalau dia kalah cepat dari kakaknya :p.
Yang selalu dimainkan berdua sekarang adalah kereta belanja, berisi segala pernak pernik dari kompor mainan hingga buah-buahan plastik. Kadang-kadang mereka berjualan bakso, pizza sampai koko crunch. Yang paling sering sih memasukkan segala benda di ruang tengah dari telepon sampai bingkai foto untuk dijual ke Ibu dan Ayah. Aneh juga saat saya harus membeli majalah baru dengan harga 'Lima ratus juta rupiah dan ga bisa ditawar Bu.." :p.
Seperangkat alat pertukangan juga jarang berada di rak. Walaupun kadang-kadang seperti montir yang terima bongkar tidak terima pasang, anak-anak saya suka sekali 'berlagak' bertukang. Mungkin tertular dari ayah dari yang hobi bertukang dan ngebengkel saat weekend. Tang, sekop, gergaji, obeng, kunci Inggris sampe sekop dan garu plastik adalah must have items mereka. Ngoprek mainan dan bermain di luar rumah dengan peralatan lengkap adalah saat bermain favorit. Lucu juga sih, melihat mereka sibuk pura-pura menggergaji pohon mangga, menggali tanah untuk menanam biji jagung popcorn dan sibuk 'mengganti ban' sepeda :p.
Saat-saat tenang biasanya diisi dengan menggambar, melukis dan membaca. Jadi saya pikir, peralatan menggambar dan buku adalah mainan juga :p. Spidol anak-anak sangat cepat habis, karena mereka memakainya dengan segala 'cara', dengan cara 'normal' hingga menggambar di ember berisi air.. hhhh. Buku juga favorit mereka. Ada beberapa buku yang hampir tidak pernah duduk manis di raknya, karena selalu beredar dan dibawa ke mana-mana..
Oya, favorit yang lain adalah komputer! Saat tiba jadwal untuk bermain game di komputer semua mainan lain akan kalah pamor :p.
Saya perhatikan, mainan favorit mereka tidak ada yang berbaterai! Segala mobil-mobilan, remote, mainan dengan musik dan segala mainan dengan embel-embel stimulasi visual, motorik dll di kemasannya, ternyata bukan mainan yang menjadi favorit. Saya pernah membelikan buldozer dengan remote yang diidam-idamkan Zaka, ternyata hanya seminggu mainan itu turun dari raknya. Singing Elmo dengan tombol-tombol dan pilihan 12 lagu, ternyata hanya 2 minggu menjadi favorit Kishan. Banyak mainan lain yang hanya menikmati masa bulan madu 1-2 minggu, selanjutnya bertengger di rak, dan hanya sekali-sekali dimainkan...
Jadi, yang saya pelajari adalah mainan mahal belum tentu dicintai anak-anak. Mainan yang mereka cintai adalah mainan yang bisa menjadi 'apa saja' untuk banyak imajinasi mereka.
Selamat berburu mainan favorit :p.
Pernah dalam suatu masa yang lama saya mengabaikan perasaan. Saat tujuan hidup rasanya jelas, yaitu prestasi dan target untuk dicapai, hidup terasa lebih mudah. Saya tidak pernah dan tidak merasa perlu untuk berpikir tentang apa yang saya rasakan (dan apa yang orang lain rasakan) karena lebih mudah untuk fokus dan berorientasi pada tujuan. Apalagi jika tujuannya juga tidak berhubungan dengan orang lain.
Pernah dengar tentang locus of control atau LOC? Locus of control adalah sikap seseorang dalam mengartikan sebab dari suatu peristiwa. Seseorang dengan Internal LoC adalah mereka yang merasa bertanggung jawab atas kejadian-kejadian tertentu. Hasil adalah dampak langsung dari tindakannya. Sedangkan, orang dengan External LoC adalah mereka yang sering menyalahkan (atau bersyukur) atas keberuntungan, petaka, nasib, keadaan dirinya, atau kekuatan-kekuatan lain di luar kekuasaannya.
Saya terkaget-kaget, bingung dan gamang. Perasaan adalah sesuatu yang jarang sekali saya pikirkan (dan rasakan). Terbiasa berpikir dengan menggunakan logika, saya tidak ahli menggunakan rasa. Sebagai mahasiswa teknik dan engineer, saya terbiasa berpikir secara sistematis, mencari solusi yang paling efisien, dan fokus pada tujuan. Saya lupa mengasah otak kanan saya.
Pertama kali saya sadar akan tidak pekanya diri adalah saat seorang sahabat menangis di depan saya. Emosi, adalah suatu hal yang saya hindari. Karena saya tidak tahu bagaimana menghadapinya. Selama ini saya nyaman dengan teman-teman yang juga sangat logis, dan tidak ahli menghadapi kompleksnya perasaan. Waktu itu saya merasa ada yang salah dengan tidak ketidaknyamanan saat mencoba berempati, saat rasa canggung mendominasi dan saya tidak tahu apa yang harus lakukan untuk menghibur sahabat yang sedih.
Setelah anak saya makin besar saya makin bingung. Teori-teori telah saya jalankan, banyak buku yang telah saya baca, tapi tetap saya merasa ada yang kurang… menjadi ibu adalah hal yang menakjubkan, karena sungguh banyak muatan emosi yang terlibat.
Ternyata saya memang harus belajar tentang perasaan. Saya belajar, bahwa manusia bukanlah robot yang eksak, yang akan mengeluarkan output tertentu sesuai input yang diberikan, seperti yang saya pelajari tentang rangkaian listrik saat kuliah. Manusia, apalagi anak-anak, manusia kecil yang fitrah, titipan Allah, bukanlah sesuatu yang bisa saya baca dengan tepat. Masalah rumah sehari-hari sering kali tidak memerlukan solusi yang efisien, melainkan kesabaran dan hati seluas samudra. Saya belajar, untuk memahami ketidaksempurnaan, kehebohan rumah dan meledaknya emosi anak-anak sebagai bagian dari dinamika seorang ibu, dan saya harus belajar menerima bahwa saya ibu yang tidak sempurna.
Saya harus belajar dari awal untuk menggunakan perasaan. Bukan hal yang mudah, karena logika seringkali mendominasi pikiran, perbuatan dan perkataan saya. Apakah perasaan saya sudah tumpul? Apakah empati saya sudah sangat berkurang, setelah selama ini tergerus oleh segala tujuan yang sebenarnya kurang penting? Apakah selama ini saya mengabaikan perasaan banyak orang di sekeliling saya? Saya tidak tahu..
Tadi sore suami saya migrain berat, dan ujug-ujug minta di bekam. Bekam? Waduh, itu permintaan aneh euy.. Boro-boro bisa nge-bekam, saya bahkan punya pengalaman buruk dengan bekam, saat jadi migrain berat setelah pertama kali dibekam seorang teman.
Kembali ke cerita migrainnya suami saya, alhasil demi suami tercinta tadi malam saya nenangga ke sahabat yang praktisi bekam, minta kursus singkat (dan gratis ha ha). Sepulangnya dari
Oya, bekam yang saya lakukan adalah bekam kering (Hijamah Jaaffah) yaitu menghisap permukaan kulit dengan alat berbentuk mangkuk plastik dengan pompa penghisap. Lalu memijat tempat sekitarnya (istilah teman saya, sulur-sulur) tanpa mengeluarkan darah kotor. Bekam kering ini berkhasiat memperlancar aliran darah buku atau mengalirkan darah ke bagian tubuh yang kekurangan. Kalau menurut saya mah mirip dengan kerokan. Bahkan bekas-bekas bekam pada suami saya adalah punggung yang kemerahan, seperti habis kerokan.
Apakah bekam nya berhasil? Tanya saja pada suami saya he he. Menurut dia mah kepalanya terasa lebih enteng, dan tubuhnya lebih nyaman. Mungkin peredaran darahnya sudah lebih lancar ya? Semoga.. :-).